Cara Mengelola Keuangan Bisnis Laundry Agar Sehat dan Berhasil

Bunda dan ayahanda sekalian, kesempatan kali ini ijinkan saya untuk berbagi sedikit tentang bagaimana mengelola keuangan bisnis agar sehat dan berhasil. Seperti kita tahu, keuangan adalah salah satu tolok ukur keberhasilan bisnis. Namun betapa banyak, bisnis yang seolah berkembang dan menguntungkan, ternyata hanya bagus di atas kertas, tanpa ada hasil berupa uang cash yang ada di tangan maupun rekening. Bahkan terkadang uang itu lenyap tak berbekas, sedangkan hutang kita pada supplier menumpuk.
Trus apa yang terjadi……?


Ijinkan saya menanyakan sesuatu yang fundamental pada Bapak Ibu sekalian.
Apakah keuangan rumah tangga kita sudah terpisah dengan bisnis kita ..????


Terpisah bukan berarti kita tidak mengambil keuntungan dalam bisnis. Tapi, gajilah kita sebagai owner secukupnya, dan masukkan dalam faktor biaya. Dan berdisiplinlah. Kalau sekedar tujuannya memperoleh hasil, maka bapak ibu sekalian baru berjualan, dan belum berbisnis. Dan kalau nggak mau memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, percuma kita belajar bisnis sampau kapanpun.


Trus apa bedanya dagang dan bisnis?


Paham kan? Ternyata nggak semudah itu untuk berbisnis Fergusso… wkwkwk😀
Makanya ada orang berjualan bakso atau makanan, sudah puluhan tahun tapi tidak bartumbuh, meskipun masih tetap ada. Karena dia sedang berjualan dan belum berbisnis.

Kini akan saya jelaskan tahapan-tahapan dalam berbisnis, dari sisi finansial.


Tahapan pertama dari berbisnis adalah MAKE MONEY. Harus ada penjualan atau sales, kalau kita ingin memulai bisnis.
Misal di bisnis Laundry, cek data Bunda sekalian. Ada berapa pelanggan per hari? Berapa rata-rata basket size mereka? Berapa total omsetnya? Dengan mengurangkan sales dengan biaya operasional, maka akan didapat profit.


Maka di tahap ini, bunda harus sudah memiliki pembukuan keuangan kayak jaman SMP dulu, ada pemasukan, pengeluaran dan saldo. Dan rumus peningkatan profit cuman 2, meningkatkan sales dan atau menurunkan ongkos/biaya/cost.
Tapi, laporan yang seperti ini saja belum cukup untuk melihat kemana uang keluar dan masuk.
Laporan keuangan yang baik itu seperti akuarium yang bening, hingga mampu melihat semua ikan yang ada di dalamnya. Kalau keuangannya jelek… yaa seperti selokan yang butek dan nggak tahu ikan apa saja yang berenang.
Tahu-tahu ikannya lenyap semua dari kolam kita…😁


Dari modal, kita belikan alat dan bahan baku, kemudian ada penjualan atau revenue
Penjualan dikurangi Harga Pokok Produksi atau COGS (googling sendiri yaa…😁) akan menjadi gross profit
Tapi ini belum menjadi keuntungan sebenarnya, karena harus dikurangi Operational Expenditur (biaya operasional) dan Marketing Exp (biaya pemasaran).
Sekali lagi, yang inipun belum jadi keuntungan kita. Karena masih menjadi EBITDA (Earning/Keuntungan Before Interest Tax Depretiation and Amortitation).
Baru setelah dikurangi bunga, pajak, depresiasi alat dan amortisasi, jadilah NET PROFIT
Beginilah cara kita membaca keuangan yang lengkap. Sehingga kita bisa tahu semua faktor biaya dalam bisnis.


Contoh


Clear kan? Dengan demikian, tak ada lagi yang terlewat dari biaya-biaya yang ada dalam bisnis. Semua sudah terhitung.
Nah, net profit inilah yang bisa disimpan, diinvestasikan, atau diputar lagi ke bisnis. Atau buat beli Iphone 11 Pro Max…😄


Hancur Hiroshima karena BOM, hancur warung tetangga karena BON…😂
Bisa jadi, keuntungan kita itu tidak menjadi duit, tapi MENUMPUK jadi stok bahan baku dan barang jadi, dan atau piutang dari customer… kalau kita terlalu baik NGUTANGIN ke konsumen
Bayangkan main catur tanpa raja…
Maka yang harus kita lakukan adalah memperbesar ToP atau Term of Payment suplier, dan konsumen tidak boleh hutang. Semua harus Cash on Delivery


Sehingga kita punya uang cash untuk memutar roda operasional bisnis.


Alhamdulillah selesai semoga bs d baca😂😂😂🤧

ijolaundry.com